Sudahkah Ibu Siap Saat Sang Anak Mulai Mengenal Dunia di Sekolah?

Sudahkah Ibu Siap Saat Sang Anak Mulai Mengenal Dunia di Sekolah?

16
0
SHARE

Your Ads

Tuhan menghadirkan sang buah hati dalam rahim kita bukan semata-mata sebagai hadiah, melainkan juga amanah. Kita sering mendengar bahwasannya anak kita terlahir sebagai selembar kertas putih, kitalah orang tua yang akan melukiskan warna dasar di atas kertas itu. Warna dasar mengartikan bahwa segala fundamen yang ada dalam diri sang buah hati berasal dari kita, orang tua sebagai orang pertama yang memberikan pendidikan. Namun hal ini juga menartikan bahwa tidak hanya kita orang tua yang mewarnai selembar kertas tersebut. Tak lain dan tak bukan, lingkungan akan turut andil menumpahkan tinta yang entah warnanya apa kepada sang kertas putih.
Tanggal 18 Juli atau hari Senin kemarin akan  hari pertama anak-anak masuk sekolah. Namun hari itu menjadi lebih spesial bagi sang buah hati yang baru akan menginjakan kaki di sekolah, baik itu taman kanak-kanak/playgroup. Bagaimana tidak, pada momen itu anak-anak pertama kalinya akan menerima tumahan tinta yang berasal bukan dari kedua orang tuanya. Meski kesannya masih terlalu dini untuk mengatakan demikian, namun pada hari itulah sang anak akan diperkenalkan dengan segala hal yang bukan berasal dari keluarganya.
Dinamika seperti ketakutan saat pertama masuk sekolah, merupakan suatu hal yang banyak terjadi. Sebagai seorang Ibu, bukan suatu pilihan untuk mengatasi hal tersebut, melainkan suatu keharusan. Ajaklah sang anak untuk bercengkerama mengenai betapa menakjubkannya mengenal dunia melalui sekolah, berikan mereka motivasi dan semangat, serta dukung mereka dengan perlengkapan yang memadai agar anak bisa merasakan bahwa sekolah itu bukanlah hal yang menautkan.
Tapi Ibu, pada masa ini bukan hanya sang anak saja yang harus melakukan persiapan. Di sini kita orang tua, terutama Ibu sebagai pemeran utama dalam dunia pendidikan anak, juga harus melakukan persiapan. Pada hari dimana kaki-kaki kecil telah menegaskan langkahnya ke sekolah, pada hari itu juga banyak “faktor-faktor luar” seperti hal-hal baru akan memasuki sang anak, entah itu hal yang positif maupun negatif. Mungkin rasanya akan semakin ringan, karena tugas untuk memperkenalkan dan mengajarkan hal-hal baru pada sang anak yang biasa Ibu lakukan telah dilakukan oleh guru-guru yang ada di sekolah. Namun sebenarna tugas Ibu bertambah satu tingkat, yaitu untuk tetap mengawasi hal apa saja yang anak dapatkan, baik di dalam sekolahnya maupun dalam lingkungan pertemanannya. Meskipun upaya untuk memilih sekolah yang terbaik untuk menghindari risiko tersebut telah dilakukan, tetaplah untuk memberikan pengawasan terhadap perkembangan anak.
Tugas Ibu tidak menjadi lebih mudah, melainkan Ibu sebagai pilar utama penyokong pendidikan anak harus semakin siap untuk menyokong perkembangan anak. Memberikan pemahaman atas apa-apa yang telah didapatkan serta menyikapi dengan bijak atas apapun perkembangan sang anak merupakan tugas yang tidak boleh tidak dilakukan oleh kita.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY