Pendidikan Karakter Anak

Pendidikan Karakter Anak

5
0

Your Ads


Pendidikan Karakter Anakexercise.com

Pendidikan karakter anak merupakan hal yang sekarang dianggap mudah. Orang tua kerap tidak mengerti kenapa buah hati mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, dari seorang malaikat menjadi ‘penjahat kecil’. Mungkin ini saatnya memeriksa eksposur media pada anak yang bisa saja menjadi sumber masalah perkembangan karakter anak. Berikut caranya..

  1. Awasi acara televisi pilihan anak
    Genre kartun seringkali diasumsikan sebagai acara anak-anak. Selama di pandangan orang tua acara televisi masih dalam bentuk 2 dimensi alias gambar, maka dianggap pasti ditujukkan untuk anak kecil. Kenyataan sering berkata lain.

    Animasi, atau kartun bukan hanya milik anak-anak. Sejatinya konsep menggunakan gambar yang bergerak hanyalah media bagi seniman dalam menjual acara. Bahkan, maraknya konsep animasi ‘anak-anak’ namun mengundang kekerasan seperti happy three friends, yakni beruang lucu yang gemar membunuh, membuat banyak orang gagal paham.

    Orang tua kadang hanya menyerahkan anak pada televisi sembari melakukan pekerjaan lain. Padahal, tanpa sadar, anak bisa jadi menonton adegan kekerasan, minuman keras, merokok, narkoba, sampai melecehkan orang lain yang ditayangkan secara tersirat selama ayah bunda lengah. Ada baiknya meluangkan waktu untuk memahami terlebih dahulu acara yang ditonton si kecil sebelum membiarkan dirinya menonton sendirian.

  2. Perhatikan rating film
    Viralnya protes beberapa bunda terhadap kekerasan dalam film deadpool, mengundang gelak tawa netizen. Bukan karena kecemasan akan dampak adegan berdarah, pembunuhan kejam, dan lontaran kata kasar, namun karena protes tersebut tidak berlandaskan peringatan yang sudah tertera pada film tersebut. Memang, kisah anti-pahlawan yang dibintangi Ryan Reynolds ini telah jelas lulus sensor sebagai R-rating. Komplain yang dilakukan orang tua akan film deadpool tidak sepenuhnya salah, hanya saja kurangnya ketelitian sebagai konsumen.

    Ironis tapi nyata, tidak banyak penonton terutama orang tua yang memahami konsep sensor pada film. Proses penayangan film di Indonesia telah melalui uji coba guna memberi kategori pada film tersebut, tujuannya tentu saja supaya memudahkan konsumen dalam memahami isi suatu alur cerita. Tentu ogah sekali bayar mahal masuk bioskop namun tayangannya jauh berbeda dengan yang dibayangkan.

    Rating film sendiri terbagi menjadi 4 yakni rated G, rated PG, rated PG 13, dan rated-R (R-rating). Masing-masing rating memiliki arti tersendiri.

Rated G merupakan singkatan dari  general audience atau bahasa Indonesianya khalayak umum. Adegan cenderung ‘normal’, menimbulkan gelak tawa, dan secara garis besar, pantas dengan norma yang berlaku. Biasanya, film yang ditunjukkan untuk keluarga masuk dalam kategori rated G.

Parental guidance (PG) dan parental guidance 13 (PG 13) merupakan dua tingkatan yang nyaris sama. Parental guidance berarti film tersebut menggunakan candaan yang sedikit berkonflik dengan konsep norma, ataupun menyangkut masalah yang jarang menjadi bahan obrolan antar orang tua dan si kecil. Parental guidance 13 mendandakan bahwa tontonan tersebut berisi adegan yang  membutuhkan penjelasan lebih lanjut supaya tidak bertentangan jauh dengan pengajaran karakter anak yang sudah dilakukan.

Rated-R tergolong film dewasa yang ditujukkan bagi pemirsa berusia diatas minimal tujuh belas tahun. Adegan yang ditayangkan bisa jadi begitu menganggu pikiran, bernuansa ‘panas’, atau penuh darah dan terbuainya organ tubuh. Jelas, rated-R tidak diperuntukkan bagi orang tua yang ingin menonton bersama dengan anak kecil. Tentu, lain kali ingin menonton bersama, cek terlebih dahulu detil film dan jangan sekedar asumsi.

  1. Perhatikan pergaulan dunia maya si kecil
    Anak sekolah dasar punya gadget sendiri telah menjadi fenomena umum. Ya, memang, perkembangan jaman yang semakin cepat dengan kondisi ayah bunda sibuk bekerja, telefon genggam menjadi media komunikasi yang ideal untuk sehari-hari. Terlebih dengan munculnya kebijakan pemerintah yang baru membuat orang tua harus merelakan anaknya berada di sekolah seharian, telefon genggam semakin diperlukan.

    Telefon genggam untuk anak kecil ibarat pisau bermata dua. Resiko dan keuntungan memiliki telefon genggam sama besarnya, membuat keputusan sulit dibuat. Untungnya tentu saja memudahkan komunikasi antar orang tua dengan buah hati, namun salah satu resiko terberat adalah siapakah orang yang dihubungi anak selain ayah bunda.

    Mari diakui semua manusia sangat polos dan mudah percaya pada awalnya. Banyak predator seksual, ataupun penculik anak mencari celah dalam kesempitan. Entah berkenalan melalui internet lantas saling bertukar pesan, atau telefon iseng yang membuai hati anak. Manapun itu, bahaya akan mengintai dibalik indahnya telefon genggam.

    Mengawasi anak tidak harus secara terang-terangan. Diam saja, dan lirik isi hape anak, usahakan jangan menanyakan secara gamblang dengan siapa anak berbicara. Pelan tapi pasti selidiki siapakah pria yang lebih tua atau mungkin ‘wanita cantik nan baik’ yang sering berkomunikasi melalui telefon genggam si kecil. Tetap waspada, karena anak bisa merasa tersinggung jika langsung dilarang.

  2. Batasi sentuhan media
    Visi misi media tentu saja memanjakan otak penonton. Mulai dari orang tua hingga anak-anak bisa menikmati isi media. Namun, yang perlu diperhatikan adalah anak kecil tidak seharusnya terlalu sering mencerna media. Terlebih bila kebanyakan media yang dikonsumsi memiliki agenda tersembunyi dalam merusak generasi bangsa.

    Atur jadwal kapan anak bisa menonton televisi, menggunakan telefon genggam, atau akses internet. Sediakan waktu untuk berkomunikasi dengan si kecil. Toh pada akhirnya tanggung jawab pendidikan karakter anak ada pada orang tua dan bukan pemilik media.(HN)

 

 

Share and Enjoy



Source link

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY