Melahirkan di Air (Waterbirth) : Plus dan Minusnya

Melahirkan di Air (Waterbirth) : Plus dan Minusnya

13
0

Your Ads


Melahirkan di air atau popular dengan istilah waterbirth pertama kali diperkenalkan di negara-negara Eropa, khususnya Rusia dan Perancis pada tahun 1970-an. Waterbirth dicetuskan untuk memudahkan ibu dalam melahirkan bayinya. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa melahirkan di dalam air terbukti dapat meminimalisir rasa sakit yang dirasakan oleh sang ibu. Ide persalinan di dalam air ini pertama kali muncul dari pemikiran soal janin yang selama kurang lebih 9 bulan berada di dalam kantung yang berisi cairan ketuban. Ketika bayi lahir di dunia, air yang menjadi media persalinan dikondisikan semirip mungkin dengan cairan ketuban khususnya pada bagian suhu.  Meski begitu, menjalani persalinan di dalam air tetap ada risikonya. Misalnya saja risiko adanya komplikasi pada paru-paru bayi. Bayi akan sulit bernafas selama berada di dalam air.

Melahirkan di Air (Waterbirth) : Plus dan MinusnyaKelebihan Melahirkan di Air (waterbirth)

Menurut para pakar ginekologi,  persalinan di dalam air mempunyai beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan metode persalinan normal dan sesar. Kelebihan ini tak hanya akan dirasakan oleh ibu yang menjalankan persalinan saja, melainkan juga untuk bayi. Ibu yang menjalankan persalinan di dalam air akan jauh lebih rileks  selama proses bersalin. Mengapa? Karena semua otot yang berperan aktif selama proses persalinan berlangsung akan lebih elastis. Ibu juga akan mudah untuk mengejan sehingga rasa nyeri selama proses persalinan terasa berkurang.  Kelebihan lainnya yaitu pembukaan jalan lahir akan jauh lebih cepat.

Lantas apa kelebihan waterbirth untuk bayi yang dilahirkan? Bayi yang dilahirkan dengan metode persalinan di dalam air akan memiliki risiko cedera kepala lebih kecil bila dibandingkan dengan metode persalinan lainnya. Sirkulasi darah di dalam tubuh bayi juga akan lebih lancar sehingga tubuh bayi tak pucat usai dilahirkan.

Proses Melahirkan di Air (waterbirth)

Melahirkan di Air (Waterbirth) : Plus dan Minusnya

Pada dasarnya proses persalinan di dalam air sama saja dengan proses persalinan normal. Hanya saja media dan tempatnya yang berbeda. Waterbirth dilakukan di sebuah kolam khusus yang didesain untuk proses waterbirth. Kolam tak terlalu luas dan tak terlalu sempit dan kolam terbuat dari bahan plastik.  Bagian dalam kolam terdapat tonjolan-tonjolan di seluruh permukaan bagian dalam. Tonjolan-tonjolan ini dibuat untuk mencegah tubuh ibu merosot selama proses persalinan di dalam air. Kolam juga dilengkapi dengan pompa pengatur air yang berfungsi untuk mengatur pergantian air di dalam kolam. Pompa pengatur ini juga mampuberperan sebagai pengatur suhu air (water heater) yang mana suhu air harus tetap hangat. Sebuah termometer juga dipasangkan di kolam khusus ini agar tim medis dapat terus memantau suhu air yang sesuaikan dengan suhu tubuh (36-37 derajat Celsius). Pengaturan suhu ini sangat penting dilakukan agar bayi yang telah dilahirkan tidak merasakan suhu luar kandungan yang ekstrems baginya. Dengan demikian, bayi akan tercegah dari hipotermia.

Bayi yang keluar dari jalan lahir secara otomatis akan terendam beberapa detik di dalam air (sekitar 5 hingga 10 detik). Kondisi ini tak perlu dikhawatirkan karena bayi tetap merasakan seolah ia masih di dalam kandungan berkat suhu di dalam dan di luar tubuh ibu yang sama. Tak heran ketika bayi baru lahir, bayi tidak langsung akan menangis.

Meski memiliki banyak kelebihan, metode melahirkan di dalam air tetap harus didasarkan pada pertimbangan dan batasan tertentu. Dan yang pasti, ibu harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis kandungan agar mengetahui apakah diperbolehkan untuk menjalani persalinan dengan metode waterbirth atau tidak. Pasalnya ada beberapa pertimbangan medis yang tidak memungkinkan seorang ibu melahirkan dengan metode ini. Pertimbangan medis yang dimaksud antara lain posisi bayi sungsang atau melintang, panggul ibu yang terlalu kecil,  ibu sedang dalam masa perawatan medis, ibu menderita herpes, dll.

Mengapa ibu yang mengidap penyakit herpes tidak disarankan melahirkan dengan metode waterbirth? Karena kuman penyebab herpes tetap masih dapat hidup di dalam air. Jika tetap dilakukan, kemungkinan besar bayi akan tertular kuman herpes melalui mata, tenggorokan, dan selaput lendir bayi. Dan yang paling penting, proses persalinan dengan media air ini wajib di bawah pengawasan tim medis profesional agar tercegah dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tips sebelum memutuskan untuk Melahirkan di Air (waterbirth)

Terdapat sejumlah bermanfaat bagi Anda para ibu yang tak lama lagi akan menyambut kelahiran calon buah hati. Tips yang pertama, ikuti senam untuk melatih pernafasan dan membuat otot-otot organ reproduksi Anda lebih lentur sehingga Anda akan mudah dalam menjalani proses persalinan. Tips yang kedua, jika Anda benar-benar mantap ingin melahirkan di air, pilihlah rumah sakit yang menyediakan fasilitas waterbirth yang memadai plus tim medis (dokter dan perawat) yang profesional dan terlatih.

Risiko Melahirkan di Air (waterbirth)

Dilansir dari sumber informasi lain, waterbirth menimbulkan beberapa risiko, khususnya bagi bayi yang baru saja dilahirkan. Sebut saja risiko yang pertama adalah timbulnya infeksi. Infeksi muncul akibat adanya kuman penyebab infeksi yang menyebar di dalam air. Kuman ini bisa saja berasal dari kotoran ibu yang seringnya keluar bersamaan dengan keluarnya bayi. Buang air besar saat menjalani proses persalinan adalah hal yang sangat wajar sebagai akibat kontraksi otot yang maksimal. Meski belum diketahui pasti seberapa besar prosentase infeksi pada bayi yang dilahirkan melalui waterbirth, pihak rumah sakit tetap harus memastikan kebersihan dan kesterilan kolam pasca digunakan. Sebelum digunakan kembali, tim medis wajib mengecek kembali kebersihan, kelayakan, dan kesterilan kolam agar pasien baru tetap terjaga kebersihannya.

Risiko lainnya yang mungkin saja terjadi adalah adanya kondisi darurat yang mengharuskan Anda untuk berpindah metode persalinan menjadi persalinan sesar atau normal. Proses persalinan dengan menggunakan metode waterbirth wajib dihentikan apabila terjadi komplikasi. Adapun beberapa contoh komplikasi yang mungkin saja terjadi selama proses persalinan, yaitu;

  • detak jantung bayi yang dinilai bermasalah
  • proses persalinan yang lambat
  • terjadi pendarahan selama proses persalinan
  • keluarnya mekonium (kotoran bayi yang pertama keluar)
  • air kolam menjadi terlalu kotor
  • ibu merasa lemas, mengantuk, atau ingin pingsan.

Setiap ibu pastinya sangat khawatir jika bayinya bernafas ketika masih terendam di dalam air. Namun tahukah Anda,  bayi yang sehat dan normal mempunyai pelindung, khususnya pelindung yang dapat mencegahnya tersedak oleh karena adanya cairan yang masuk ke dalam mulutnya. Pelindung tersebut tak lain adalah ‘dive reflex’  (reflek menyelam). Bayi secara otomatis akan menutup jalan nafasnya ketika dalam posisi tubuh terendam air. Namun ada beberapa kondisi yang memicu bayi menghirup udara sesaat setelah dilahirkan, seperti;

  • bayi terkejut sehingga bayi akan langsung menghirup udara
  • posisi kepala bayi terlalu lama di luar jalan lahir, sedang tubuhnya masih berada di dalam leher rahim atau rahim
  • terpengaruhnya pasokan oksigen di dalam plasenta bayi oleh sebab-sebab tertentu

Tali pusar putus adalah risiko terakhir bagi ibu melahirkan di air. Ketika bayi sepenuhnya keluar dari jalan lahir, kepala bayi akan buru-buru diangkat ke permukaan air. Akibat kinerja tim medis yang kurang hati-hati, ada risiko tali pusar bayi putus ketika tim medis terburu-buru mengangkat bayi ke permukaan air. Jadi, pastikan Anda memilih tim medis yang profesional dan terlatih.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY