Kita Berhutang Kepada Anak-anak Kita

Kita Berhutang Kepada Anak-anak Kita

437
0

Kita Berhutang Kepada Anak-anak KitaDuniaIbu.Org – Sore ini kakak dapat marah dari ayahnya, karena shalat maghribnya dinanti-nanti. Kebetulan kakak sudah umur 8 tahun jadi ayah cukup keras tentangĀ  satu ini, karena kena marah ayah manyun deh kakak tuh. Namun setelah shalat isya saat ayahnya mengeluh sakit mata, kakak segera turun dan mengambil obat mata lalu diserahin ke bundanya. Ya saya tahu maksudnya untuk mengobati ayahnya. Saat waktu tidur hebatnya ayah selalu ada cara mendekati kakak dan kakak seperti biasa tidur dengan ayah dan selalu minta dipeluk. Ini hebat bagi saya sebagai seorang ibu.

jadi pengin share tentang kita sebagai orang tua berhutang kepada anak-anak kita .

Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang kita memarahi mereka saat kita penat dalam lelah . Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham dengan kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena hanya kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan.
Tetapi, seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka. Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam kita dengan tangan kecilnya. Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka selalu banyak cinta untuk kita, meski kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.
Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita, kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan atau menghapus air mata dai pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan. Mereka yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita dan menghapus air mata kita.
Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirikan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?
Tentang anak-anak, sesunggguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orang tua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang kita punya.
Terima kasih untuk dua putriku dan ayah yang selalu mengajariki untuk lebih baik, Putriku semoga allah menjadikan kalian penyejuk hati dan mata semua insan. Semoga allah cantikkan hati dan parasmu. Amiinn..

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY