Dampak Berat Badan Ibu Hamil Berlebih

Dampak Berat Badan Ibu Hamil Berlebih

15
0

Your Ads


Dampak Berat Badan Ibu Hamil BerlebihPlus Size Birth

Berat badan seringkali dipermasalahkan. Tubuh bunda yang memang otomatis membesar seiring dengan perkembangan janin wajar saja meningkatkan angka di timbangan setiap bulannya. Dampak inilah yang berkaitan erat dengan kesehatan bunda dan janin. Tidak hanya dari segi fisik namun juga kesehatan mental ibu . Apalagi kalau sampai bunda divonis obesitas, duh jangan sampai, deh.

Iklan jaman sekarang kerap fokus pada perempuan tinggi semampai, dan langsing. Jangan salah, walau banyak kaum hawa menentang standard kecantikan tersebut, bukan berarti negatif, lho. Bukan berarti semua perempuan harus kurus kerempeng bak Victoria secret angel atau model gelanggang busana, tapi tubuh ideal memang dapat dongkrak kesehatan individu.

Tubuh tidak selalu ditentukan angka di timbangan, ataupun bentuk tubuh dari luar. Setiap perempuan maupun laki-laki punya kebutuhan berat badan berbeda. Penampilan ‘berisi’ namun ideal jauh lebih baik dibanding kurus kering tapi anoreksia.  Hal ini juga berlaku pada masa perempuan berbadan dua.

Masa merupakan saat paling tegang, dan butuh perhatian ekstra. Salah langkah sedikit saja, tidak hanya mencelakakan bunda namun juga calon bayi dalam kandungan. Terlebih kalau ditilik lebih lanjut, tahap pertama menakar kesehatan secara umum adalah berat badan. Kalau bunda tidak mengalami obesitas kehamilan atau kekurangan berat badan seharusnya tidak ada masalah. Lantas apa standard berat badan bunda mengandung?

Dihitung pakai jari saja, sudah ketebak lebih banyak orang yang benci matematika dibanding mereka yang cinta masalah hitung menghitung. Usut punya usut, tanpa keberadaan ilmu perhitungan, alias matematika akan banyak asumsi yang tidak bisa dinyatakan dengan akurasi pasti. Bahkan, penentuan berat badan ibu hamil dalam tahap wajar atau tidak dapat dilakukan secara matematis.

Keadilan bukan berarti sama rata, adil artinya memberikan yang terbaik berdasar faktor masing-masing individu. Setiap orang punya tinggi yang berbeda, dengan massa otot, tulang, dan kegiatan yang berbeda. Inilah dasar perhitungan body mass index atau biasa disingkat BMI.

Adolphe quetetet, cendikiawan astronomi, statistika, sosiologis, dan matematika mencoba menemukan berat badan ideal bagi semua orang. Rumus ciptaannya pada tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh dua yang dikenal sebagai BMI mencoba menakar kebutuhan berat badan dengan rasio tinggi, dan berat seseorang saat ini untuk dikonversi menjadi skor. BMI dengan skor dibawah delapan belas cenderung dianggap terlalu kurus, dan diatas tiga puluh dikategorikan obesitas.

Titik mulai sering dikaitkan dengan hasil akhir. Naluri manusia yang kadang tak berdasar ini justru bisa mendekati kenyataan. Bicara mengenai kehamilan dan berat badan, tentu harus dilacak sejak awal kehamilan. Perempuan dengan historis obesitas cenderung kian parah ketika ada janin dalam rahim, begitu pula dengan perempuan yang kekurangan berat badan. Kendati demikian, perempuan dengan berat badan normal sekalipun masih menanggung resiko obesitas atau kekurangan.

Semua sistem pasti punya kekurangan, tak terkecuali perhitungan body mass index. Karena fakta tersebut, terdapat satu perhitungan berat badan di luar BMI, walau sedikit ribet. Dalam dunia kesehatan, penakaran berat badan disebut PRMAS. Berbeda dengan BMI yang mengedepankan individu, PRAMS malah menarik rata-rata secara keseluruhan.

Hidup ini memiliki pola atau corak tersendiri yang berkaitan satu sama lain. Standarisasi telah banyak digunakan dalam mengukur sesuatu termasuk berat badan. Anggapan bahwa sekelompok orang yang tinggal di tempat yang sama, dengan pola makan serupa, cenderung memiliki berat badan yang tak jauh berbeda pula. Inilah mengapa RPMS membutuhkan data statistik akurat untuk vonis kategori berat badan seseorang.

Pertanyaan yang mungkin muncul sekarang adalah, kalau bunda obesitas lantas kenapa?

Semua bunda ingin kehamilan yang lancar dan man. Segala sesuatu dilakukan, tidak hanya demi hari persalinan namun bagaimana mempertahankan janin di dalam rahim. Pokoknya keguguran tidak boleh sampai terjadi jika tuhan ijinkan. Masalahnya, manusia juga diminta berusaha terlebih dahulu sebelum menyerahkan segalanya pada yang maha kuasa.

Penelitian seputar obesitas kehamilan dan dampak pada janin karangan Leddy, Power, serta Schulkin membuktikkan betapa mengerikannya obesitas pada kehamilan. Akibat pertama obesitas kehamilan adalah kemungkinan janin gugur lebih tinggi dibanding mereka yang tidak masalah berat badan. Berdasarkan studi dari 9 penelitian sebelumnya dengan melibatkan alat kedokteran canggih, membuktikkan ibu dengan obesitas lebih sering keguguran dua kali lipat diatas rata-rata.

Kaitan antara obesitas dan keguguran memang belum bisa dinyatakan dengan pasti. Hipotesis terkini menyebutkan bahwa adanya penyakit terkait kelebihan berat badan ibu hamil seperti diabetes agresif, dan hipertensi menjadi penyebab utama. Bahkan, sudah lama ilmu kesehatan menyatakan kedua penyakit tersebut sangat mungkin menjangkit janin.

Tidak semua perempuan hamil yang obesitas pasti mengalami keguguran. Beberapa diantaranya tetap mampu melaksanakan hari persalinan yang cukup beresiko. Janin, sangat mungkin alami gangguan selama pertumbuhan pada ibu yang kelebihan berat badan. Terlebih bila skor body mass index  (BMI) sangat jauh dari angka 30, yang mana berarti berat badan bunda perlu masuk tahap pertimbangan dari segi kesehatan.

Skor BMI yang hanya diatas 30 lebih sedikit juga tidak bisa ‘santai’, pasalnya, hari persalinan masih menanti. Dari luar, mungkin hanya kelainan persalinan dan harus metode cesar, padahal dilihat dari dekat ada beragam masalah. Janin yang terlalu besar, rusaknya tali pusat, dan beragam komplikasi persalinan kerap menghampiri mereka dengan berat badan ibu hamil berlebih.

Share and Enjoy



Source link

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY