Bekerja dan Mengurus Rumah Tangga

Bekerja dan Mengurus Rumah Tangga

588
0

Your Ads

Bekerja dan Mengurus Rumah TanggaBekerja dan Mengurus Rumah Tangga, sulitkan untuk menjalininya? pertayaan itu muncul dalam benak saya. Subhanallah, hal ini menjadi tantangan baru saat ini. Merawat dua buah hati, suami, semua pekerjaan di rumah, pun semua pekerjaan di sekolah. Awal mengerjakan semua tentu begitu berat. Terkadang merasa sangat lelah dan ingin sekali memutuskan untuk berhenti bekerja saat itu juga. Memikirkan bahwa mempertimbangkan mana yang lebih penting dan lebih ringan tentu akan lebih memiih yang tak banyak resikonya. Namun, semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Kewajiban pada lembaga harus ditunaikan dan kewajiban menjadi seorang ibu pun harus dilakukan, Akhirnya satu-satunya pilihan adalah menghadapi tantangan ini. Menjadi guru sekaligus ibu dan istri serta memegang semua tugasnya dengan sebaik mungkin.
Hari pertama ditinggalkan pengasuh, terasa sangat berat. Rasa kesal, sedih dengan kehilangan yang tak jelas, lelah dengan semua pekerjaan yang sebelumnya dilakukan, tentu begitu saya rasakan. Kesal karena harapan kembalinya pengasuh tak bisa terjadi. Untuk dapat memahaminya, tidak menyakiti hatinya, melayaninya, itu betul-betul tidak mudah. Saya masih bergelut dengan emosi dan keegoan untuk ingin dihormati, dan lisan adalah hal yang sangat harus dijaga. 7 orang pengasuh pada 6 tahun pernikahan, telah memberi pembelajaran berarti bagi saya. Terkadang saya berpikir, mungkin saya tidak cocok untuk memiliki asisten. Tetapi, wow.. begitu berat memang jika semua dilakukan sendiri. tentu pengertian dari pasangan, orangtua, saudara, teman sejawat, begitu sangat berarti. Terutama dukungan dari suami. Dukungannya, bantuannya, penghargaannya, begitu sangat membantu untuk dapat lebih bahagia mengerjakan semua.
Awalnya, suami betul-betul menyerahkan secara sekaligus pada saya tentang semua tugas ini. Hingga suatu hari, Alhamdulillah Alloh memberi kesadaran dan kelembutan hati pada suami, tentu dengan berbagai caraNya, yang tak terpikirkan sebelumnya. Ilmu, ternyata memang dapat memberikan pencerahan. Subhanallah, tentu Alloh pula yang menggerakkan hatinya untuk bergerak mendatangi majelis ilmu, dibantu dengan penguatan dari orang-orang terdekat, bapak-ibu mertua serta orangtua yang menasehati, dan tentu dengan do’a, Ia dapat membantu meringankan tugas saya di rumah. berbagi tugas, memberi penghargaan, dan berusaha untuk lebih bersabar menghadapi semua pekerjaan rumah. Dengan ujian ini, saya ingin lebih dekat dengan Allah SWT, karena hanya Allah lah yang memberi kekuatan, karena Allah lah yang Maha pemberi kemampuan, dan karena hanya Allah-lah Tuhanku yang dapat memberikan apa yang dibutuhkan. jika diistilahkan, ibu memang menjadi madrasah pendidikan anak-anaknya, namun kepala sekolahnya adalah suami. seorang suami pun memiliki peran yang sangat penting. jadi ibu, jangan ragu untuk selalu meminta, berdoa pada Allah agar Allah mensolehkan suami, melembutkan hatinya, dan menjadikannya pemimpin yang bijak dan adil. Tidak salah jika Islam menempatkan suami sebagai pemimpin dan istri harus dapat mematuhinya, tunduk patuh padanya, melayani dan menghormatinya selama apa yang dijalankannya ada dalam aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Semoga kita dapat melakukannya, menjadi istri yang bersyukur dan bersabar dalam keadaan apapun hingga digolongkan menjadi istri yang solehah. amin.
Masalah selanjutnya adalah bagaimana agar dapat tetap memberikan ekstra perhatian, kasih sayang, cinta pada sang buah hati, walau sesibuk dan segenting apapun keadaannya. Bagaimana caranya agar bisa lebih bersabar dengan ekstranya sikap “rewelnya”. Semoga dapat menjadi seorang pembelajar hingga lebih baik lagi.
1. seorang ibu harus memiliki hubungan yang kuat dan dekat dengan Alloh SWT. tanpa itu tentu kekuatan kita begitu lemah. dekatkan dengan ilmu agar ibadah yang kita lakukan semakin berarti dan keinginan untuk dekat dengan Allah semakin kuat.
2. seorang ibu harus sehat. itu syarat yang tak bisa diremehkan.makan makanan yang bergizi. pengaturan waktu yang lebih efektif, minum air putih dengan rutin dan banyak, istirahat jika lelah telah melanda, dan mengkonsumsi penguat stamina, susu murni atau pun susu kedelai yang bisa lebih menguatkan.
3. Seorang ibu harus dapat berpikir positif, usahakan memiliki catatan, jika pikiran negatif melanda, segera deskripsikan melalui tulisan. tentang perasaan ataupun solusi yang bisa dilakukan. lagi-lagi, kembalikan semua masalah pada Alloh dan mintalah padaNya untuk dikuatkan.
4. seorang ibu harus terus dapat mencari ilmu. ilmu untuk menghadapi semua masalah. Masalah dari dalam diri maupun masalah yang berasal dari luar dirinya. ilmu dunia, pun ilmu akhirat. datangilah majelis-majelis ilmu yang syar’i, yang dapat mengingatkan kita pada tugas utama kita sebagai manusia di dunia ini. mendatangi majelis ilmu bersama suami dan anak-anak tentu akan lebih bermakna, walaupun akhirnya seorang ibu tentu akan “direpotkan” dengan pengasuhan anak-anak. Namun, membiasakan anak berada di lingkungan majelis ilmu tentu tak ada salahnya. Semoga dapat membiasakannya berada di lingkungan positif yang dapat memberikan pembelajaran untuk mereka suatu hari nanti.
5. Seorang ibu harus yakin bahwa penggenggam semua masalah adalah hanya Allah, maka kembalikan semua masalah pada Allah dan berusahalah untuk dapat menghadapinya.
6. Bebagi tugaslah dengan suami, jalin komunikasi dan berusaha ikhlaslah dalam melakukan segala kegiatan. tak mudah, tapi perlu dicoba.
Selamat menjadi seorang ibu, dan berjuanglah. Menabung kebaikan, menabung amal, agar kelak dapat memetik hasilnya dengan hati riang gembira penuh dengan ketenangan karena semua diniatkan hanya karena Allah. hidup itu ibadah, jadikan setiap detiknya bermanfaat. salam semangat bagi semua ibu. lakukan yang terbaik selagi dapat dilakukan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY