5 Mitos Melatih Kemampuan Bahasa Anak Bilingual Mengejutkan

5 Mitos Melatih Kemampuan Bahasa Anak Bilingual Mengejutkan

29
0

Your Ads


5 Mitos Melatih Kemampuan Bahasa Anak Bilingual Mengejutkanwww.friso.co.id

Globalisasi semakin meningkat dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat. Tidak ada lagi batas antar dua sampai tiga negara, bahkan ngobrol dengan orang yang tinggal ribuan kilo meter bisa dilakukan dengan mudah. Wajar, bila kemampuan bahasa anak menjadi perhatian khusus. Toh, di masa depan, buah hati kecil ayah bunda adalah bagian dari pasukan penerus bangsa Indonesia.

Indonesia, tidak lagi tertutup sebagai suatu negara. Bahkan, presiden terkini telah menandatangani persetujuan ASEAN, dimana bersama dengan negara Asia tetangga menjalin kerja sama. Hal ini telah dilakukan oleh negara besar seperti Eropa dan Amerika. Masyarakat Indonesia, wajib mempersiapkan diri untuk menyambut kesempatan yang dibawa persatuan Asia ini, salah satunya adalah bicara lebih dari satu bahasa.

Anak yang polos tanpa beban merupakan fase terbaik untuk belajar beragam banyak hal. Perbandingan yang cukup jauh dibanding orang dewasa yang jelas terlalu banyak beban untuk konsumsi ilmu baru. Kendati demikian, bukan berarti anak lepas dari kepercayaan aneh tak berdasar alias mitos.

Ya, mitos anak bilingual beredar tanpa tanggung jawab ataupun memikirkan dampak pada orang tua yang berpikir maju dengan mengajarkan anak belajar minimal dua bahasa. Untung saja, ilmuan yang tidak mudah percaya menjalankan serangkaian pembelajaran yang berhasil mematahkan anggapan umum yang belum terbukti. Dibawah ini, terdapat daftar fakta masa belajar bahasa di masa kecil yang mampu meluruskan mitos.  

  1. Dua bahasa sekaligus akan buat si kecil bingung

“Aduh, bahasa Indonesia saja anak tidak paham, apalagi ditambah bahasa asing!”

Jauhi diri ayah bunda dari orang-orang negatif yang tidak mau mendukung usaha mengembangkan kemampuan bahasa anak, terutama mereka yang berpegang erat pada kalimat diatas. Tidak selamanya, otak anak begitu rendah hingga tidak dapat mempelajari dua bahasa di waktu bersamaan.

Barbara Zurer Pearson, penulis buku raising a bilingual child atau membesarkan anak bilingual menyatakan bahwa sejak lahir, semua bayi bisa membedakan berbagai macam bahasa. Tentu saja, bukan berarti anak bisa mengetahui percakapan bahasa asing dengan yang lain, namun telinganya memahami yang mana sedang bicara bahasa di luar kebiasaan orang tua.

Imigran Amerika, sebagian besar sangat percaya dengan mitos satu ini, sampai memilih tinggalkan bahasa asalnya guna mengajari anak belajar bahasa Inggris. Andai saja orang tua tahu, bahwa anak tidak akan bermasalah mempelajari dua bahasa sekaligus, karena memang bisa mengenali perbedaan diantara keduanya. Kendati demikian, kemampuan hanya terbatas pada bahasa yang benar-benar berbeda, bukan yang berdekatan seperti bahasa Prancis dan Arab.

 

  1. Kebanyakan bahasa menghambat perkembangan bicara

“Tahu tidak, kebanyakan bahasa malah buat si kecil tidak akan bisa bicara”

Logis memang untuk menyatakan bahwa terlalu banyak belajar bahasa justru buat otak anak lambat dalam menyusun kata. Walaupun terdengar meyakinkan, tetap anggapan tersebut terbilang salah tanpa bukti penelitian ilmiah yang konkrit. Ternyata setelah diadakan penelitian, ditemukan bahwa anggapan satu ini tergolong mitos pula.

Seberapa banyak bahasa yang dipelajari dalam satu waktu tidak ada hubungannya dengan perkembangan bicara seorang anak. Menurut Ellen Stubbe Kester, pemimpin jasa pembelajar bahasa bilingual di Austin, Texas, Amerika Serikat menjelaskan bahwa penelitian membuktikkan membesarkan anak bilingual tidak menghambat proses bicara.

 

  1. Anak akan belepotan saat bicara 2 bahasa

“Duh, sok bahasa asing deh, nanti campur aduk ngomongnya pasti, deh”

Warga asing yang bicara bahasa Indonesia umumnya terdengar belepotan saat bicara, termasuk mencampur dua bahasa sekaligus seperti “I want makan” atau “you apa kabar”. Ternyata, metode mencampuraduk bahasa atau disebut code switching adalahl hal yang sangat lumrah di kalangan orang bilingual. Bagian otak terbagi dua mendorong mereka untuk akses kedua bahasa sekaligus dan cenderung memilih kata dari bahasa yang sering digunakan.

Code switching jarang diterima dengan baik di masyarakat dunia, tidak hanya Indonesia. Beberapa orang menganggap hal tersebut norak atau sok bisa saja. Inilah dasar dari bilingual dianggap bicara belepotan ala es ‘campur’. Padahal, justru rasa terganggu tersebut didasari kemampuan otak individu untuk menerima code switching. Ada beberapa orang yang sangat mudah akses 2 bahasa secara simultan, ada pula yang tidak.

Pihak pembicara ternyata demikian pula, ada yang mampu code switching dengan cepat, ada pula yang tidak dan justru mematung ketika ada yang melakukan hal demikian. Tenang, code switching bisa diatasi dengan mengajarkan bahasa mayoritas. Madsud bahasa mayoritas adalah mengajak anak bicara satu bahasa tertentu lebih sering dibanding bahasa lain. Walau tentu saja, orang tua harus memperhatikan batas supaya si kecil tidak lupa ajaran bahasa.

  1. Otak anak mirip spons pasti gampang menyerap

“Anak kecil mah, tidak punya beban, disuruh belajar bentar juga bisa”

Acara televisi seperti Dora the explorer cukup populer di era sembilan puluh, kini anak memiliki banyak acara televisi bahasa asing seperti Marshal dan beruang atau saluran Disney Junior. Manapun itu, dipercaya mampu meningkatkan kemampuan bahasa si kecil. Dora the explorer sebagai contoh, pemakaian bahasa Spanyol dalam acara dipercaya menjadi akar pembelajaran bahasa si kecil.

Otak anak memang masih kosong dan berpotensi untuk dikembangkan. Sayangnya, beberapa orang tua masih saja salah pengertian. Anak tidak belajar bahasa secara instant, meninggalkan dirinya nonton televisi berbahasa asing seharian belum tentu menjadikan si kecil ahli bahasa. Kemampuan bahasa anak masih membutuhkan latihan konsisten bersama ayah dan bunda.(HN)

Share and Enjoy



Source link

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY