10 Strategi Suapi Bubur Bayi Sehat Minim Tangisan

10 Strategi Suapi Bubur Bayi Sehat Minim Tangisan

5
0

Your Ads


10 Strategi Suapi Bubur Bayi Sehat Minim TangisanMomJunction

Kategori bubur bayi sehat seharusnya diberikan tanda jasa. Perkembangan buah hati ayah bunda cenderung ditentukan oleh seberapa baik asupan gizi yang diberikan, dan tentu saja melalui bubur. Sayangnya sebagian besar bayi seolah tidak mengerti apa yang paling terbaik baginya. Alih-alih gembira ketika bubur dihidangkan, justru amukan dan tangisan nyaring yang didapat.

Dilema menyuapi bubur bayi sehat tidak dialami satu dua orang saja. Justru, banyak orang tua mengalami rasa bingung bagaimana menghadapi sikap si kecil. Pasalnya, penanganan bayi tidak mau makan yang kurang tepat, terutama di kala pertama kali menghidangkan pendamping air susu ibu, akan menentukan sikapnya di masa depan.

Psikologis seseorang cenderung terbentuk berdasarkan masa kecilnya. Bahkan penelitian yang fokus pada pengaruh masa kecil dengan karakter seseorang banyak diminati. Termasuk dari sudut pandang makanan, bayi yang mendapat kesan buruk di saat pertama kali menyantap suatu hidangan, cenderung membenci hidangan tersebut di masa depan. Buruk dalam artian bayi merasa dipaksa, atau momen pemberian makanan yang tepat.

Strategi menyuapi bayi adalah rancangan perawatan si kecil dengan susunan rapih berbasis pertimbangan masak. Harapannya, dengan struktur yang baik maka kemungkinan si kecil mendapat kesan buruk atau kurang menyenangkan bisa diminimalisir. Setidaknya ada 10 faktor yang harus diperhatikan oleh ayah bunda.

1. Faktor waktu

Momen sangat sulit tergantikan. Namun, dengan bidikan yang tepat, setiap momen bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih baik lagi. Sama hal dengan memperkenalkan makanan bayi, faktor waktu sangatlah penting.

Bayi cenderung lebih mudah mengamuk ketika suasana hati sedang jelek atau lelah tapi orang tua tetap memaksa dirinya mencoba makanan padat. Cobalah perhatikan kapan si kecil merasa senang dan lebih ceria. Ketika bayi dibujuk makan saat bahagia, biasanya jauh lebih mudah dibanding memaksanya di kala dirinya sedang tidak ingin diganggu.

2. Faktor kebersamaan

Manusia adalah mahluk sosial. Sadar atau tidak, sedari kecil, seseorang ingin merasa terlibat dalam suatu kelompok. Bahkan, hanya makan bersama saja sudah tergolong libatan emosi pada manusia. Bayi sekalipun sangat memahami konsep ini.

Percaya tidak percaya, bayi diam-diam ingin segera tumbuh besar. Sehingga di saat bayi merasa semua orang melakukan hal serupa, seperti makan, ada dorongan tersendiri untuk ikutan. Jadi, jangan takut untuk memberikan kursi khusus si kecil, berantakan sedikit tidak masalah yang penting nutrisi berhasil diperoleh.

3. Faktor variasi bahan

Tanah air Indonesia begitu kaya dengan alam. Semua tumbuhan dan bahan makanan sangat mungkin diperoleh dengan mudah dan harga terjangkau. Wajar saja, bila bunda ingin memperkenalkan bahan makanan sebanyak mungkin. Madsud baik ini harap dipahami, karena memang pembelajaran pertama berasal dari orang tua.

  1. Faktor Jeda

Semangat mengenalkan makanan padat pada bayi mungkin tidak aneh. Toh, selama 6 bulan kebelakang, bunda hanya bisa memberikan air susu ibu. Apalagi, bunda yang gemar memasak pasti ingin eksperimen dan unjuk diri dengan menghidangkan beragam masakan yang mungkin disenangi si kecil.

Kadangkala orang tua lupa bahwa bayi masih dalam tahap kenalan dengan makanan. Hubungan saja tidak boleh buru-buru, masa’ si kecil harus disodori beragam hidangan berbeda setiap harinya. Daripada bikin si kecil bingung kedepan, usahakan ayah bunda selalu berikan jeda tiap kali ingin memperkenalkan hidangan baru.

5. Faktor ikatan

Ikatan tidak melulu berarti hubungan seseorang dengan yang lain. Rasa ingin tahu setelah melihat cuplikan film dapat menimbulkan ikatan secara tidak langsung. Dalam kasus bayi, memberi tahu nama bahan makanan yang sedang dimakan sebetulnya membentuk ikatan. Bayi merasa ingin mengenal lebih jauh “bahan” menarik yang baru saja diperkenlakan orang tua.

Kreatifitas dalam merawat bayi sama pentingnya dengan kasih sayang. Selalu bentuk bubur menjadi berwarna warni, dan berikan nama menarik untuk menarik perhatian si kecil.

6. Faktor keterlibatan

Rasa khawatir bahaya akan menghampiri bayi yang berdekatan dengan dapur sangat mungkin dirasakan oleh bunda. Kerap kali, bunda menyiapkan bubur bayi di saat si kecil sedang tidur atau bermain, dengan harapan dirinya tak akan penasaran ke dapur. Padahal, dengan menyaksikkan bunda menyiapkan makanan untuknya, bayi bisa saja, lebih berminat karena penasaran.

7. Faktor idola

Orang tua secara tidak langsung menjadi panutan si kecil pertama kali. Tidak ada orang di bumi ini yang bisa menggantikan peran ayah bunda dalam perkembangannya entah disadari atau tidak. Bahkan, pepatah “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” sangatlah tepat.

Bayi memperhatikan segala tingkah laku ayah bunda dan ketika dirinya mampu, akan mencoba meniru. Termasuk konteks hidangan, bayi menjadikan orang tua sebagai role modelatau contoh. Apabila dirinya sering melihat ayah atau bunda memilih-milih makanan, jangan heran kalau perlahan akan ditiru.

8. Faktor tenang

Sekeras apapun usaha ayah dan bunda, tidak menutup kemungkinan si kecil akan tetap mengamuk. Jangan menyalahkan diri ataupun marah-marah, karena pada akhirnya aura yang buruk tidak membantu keadaan. Bayi, mungkin tidak mengerti bahasa bunda tapi sebagai manusia, merasakan perasaan bukan hal sulit.

Tenang, ambil nafas, dan kendalikan emosi. Si kecil hanya takut, dan frustasi, jadi jangan tambahkan tekanan. Biarkan bayi meluapkan rasa tidak nyaman dengan suatu hidangan. Pelan tapi pasti barulah sodorkan sendok makan kembali. Apalagi, tekstur bubur bayi sehat kadang kurang menyenangkan dan butuh waktu untuk adapatasi.

Share and Enjoy



Source link

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY